Cetak Generasi Muda Berkarakter dengan Jabar Masagi

Cetak Generasi Muda Berkarakter dengan Jabar Masagi
12 November 2019 No Comments Edukasi, Inspirasi SMKN1 Bongas

Dalam mencapai visi “Jabar Juara Lahir Batin“, pemerintah provinsi Jawa Barat meluncurkan program Pendidikan Karakter Jabar Masagi. Menurut Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, konsep pendidikan karakter Jabar Masagi diadopsi dari Pendidikan Karakter Bandung Masagi saat dia menjadi Walikota Bandung. Konsepnya adalah pendidikan karakter berbasis filosofi sunda, yaitu, surti, harti, bukti, dan bakti. Selain itu, juga cinta agama, bela negara, jaga budaya, dan cinta lingkungan.

Surti artinya “peka”. Seseorang perlu memiliki kepekaan baik dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain, juga dalam menyikapi gejala atau fenomena sosial yang terjadi. Sumber kepekaan adalah hati dan rasa. Kepekaan adalah wujud dari kepedulian. Peka dan peduli adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

Harti artinya mengerti atau memahami. Intinya seseorang perlu memiliki wawasan yang luas, mampu memahaminya, dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata harti tidak dapat lepas dari kata pangarti, pangabisa, atau pangaweruh yang zaman sekarang disebut sebagai kompetensi, yaitu sejumlah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang yang dicerminkan dalam sikap, pengetahuan, dan keterampilan setelah mengikuti  sebuah proses pendidikan.

Bukti artinya seseorang harus mampu berkarya atau memberi bukti. Bukan hanya omdo alias omong doang. Zaman sekarang banyak orang yang pandai berbicara tetapi tidak pandai berkarya, hanya bisa nyinyir terhadap prestasi orang lain, tapi dia sendiri minus prestasi, lebih banyak memberikan komentar sinis daripada menawaran alternatif solusi. Hal ini dapat kita lihat dengan mudah dari postingan-postingan di media sosial yang kadarnya sudah mengkhawatirkan.

Generasi muda sebagai agen perubahan dan calon penerus pembangunan harus menjadi generasi yang pandai berkarya dan memberikan bukti sebagai bukti perans sertanya dalam pembangunan bangsa dan negara. Kebermanfaatan seseorang tergantung dari sejauh mana bukti, karya, kinerja, dan kebermanfaatannya untuk orang lain.

Bakti atau ngabakti artinya bisa dalam artian seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, bakti murid terhadap gurunya, atau bakti seorang warga negara terhadap bangsa dan negaranya. Bakti seorang anak terhadap orang tua misalnya dengan melaksanakan perintah orang tua, menaati nasihatnya, membantu pekerjaan orang tua, dan tidak menyakiti hatinya. Bakti murid terhadap guru misalnya belajar dengan sungguh-sungguh, melaksanakan perintahnya, dan menaati nasihatnya.

Bakti seorang warga negara terhadap bangsa dan negaranya misalnya dengan berpartisipasi dalam pembangunan sesuai dengaan profesi, pekerjaan, dan kemampuannya masing-masing. Dalam kehidupan masyarakat kita mengenal isitilah “kerja bakti” atau juga disebut dengan gotong royong, yaitu bekerja bersama-sama membangun, memperbaiki, atau membersihkan fasilitas umum untuk kepentingan publik. Hal tersebut juga bisa disebut bakti terhadap negeri. Intinya bakti adalah cerminan sikap terpuji atau akhlak mulia yang dimiliki oleh seseorang.

“Masagi” adalah filosofi sunda merupakan kata yang singkat-padat tetapi memiliki makna yang mendalam. “Jelema masagi” artinya orang yang memiliki banyak kemampuan dan tidak ada kekurangan. Masagi berasal dari kata pasagi (persegi) yang artinya menyerupai (bentuk) persegi. (Natawisastra, 1979:14, Hidayat, 2005:219).

“Masagi” kalau digambarkan dalam bentuk fisik mungkin menyerupai bentuk segi empat berbentuk kubus yang sama tiap sisinya, karena tiap sisinya padu tak ada yang kepanjangan atau kependekan maka bentuknya menjadi “masagi”. Dalam filosofi kehidupan yang sebenarnya orang yang berusaha “masagi” adalah seorang yang telah bisa menyatu padukan semua pengalaman serta ilmu pengetahuan yang pasti memiliki sisi yang berbeda beda yang telah dialaminya menjadi sebuah kesatupaduan-tidak lagi berpandangan terpecah-terkotak kotak-parsialistik.

Orang yang “masagi” selalu berupaya berfikir konstruktif dan berpandangan menyeluruh, dan sebaliknya seorang yang tidak berupaya untuk “masagi” adalah seseorang yang cara berfikir dan pandangnya masih terkotak kotak-parsialistik, masih belum bisa memadukan ilmu serta pengalamannya yang berbeda beda menjadi sebuah kesatupaduan, juga seorang yang cara pandangnya ganjil-monolistik, misalnya karena hanya fokus serta orientasi kepada dunia yang nampak mata-terbukti secara empirik dan melalui pengalaman dunia indera, sedangkan fakta menunjukkan adanya hal-hal yang tak nampak mata yang tak tertangkap oleh pengalaman dunia inderawi (Ujang ti Bandung, 02/04/2014).

Cinta Agama

Agama merupakan fondasi kehidupan manusia. Agama mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam atau makhluk lainnya. Agama mengajarkan kepada manusia untuk melakukan kebaikan dan melarang dari keburukan.

Agama mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk mengendalikan diri memiliki akhlak yang baik. Dengan demikian, melalui penguatan ajaran agama, warga Bandung diharapkan memiliki keimanan dan ketakwaan yang mantap, serta memiliki budi pekerti yang baik yang tercermin baik dalam kesalehan pribadi maupun kesalehan sosial.

Bela Negara

Pasal 30 Undang-undang Dasar 1945 menyatakan bahwa Bela negara adalah hak sekaligus kewajiban setiap warga negara. Bela negara merupakan cerminan warga negara yang memiliki nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air. Sebagian ulama pun menyatakan bahwa cinta tanah air adalah sebagian daripada iman.

Implementasi bela negara tidak harus selalu dengan mengangkat senjata, tetapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Sebelum RI merdeka, para pejuang mengangkat senjata untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah, tetapi setelah merdeka, bela negara diwujudkan dengan membangun negara sesuai dengan kemampuan masing-masing, menjaga kelestarian dan kebersihan lingkungan, menggunakan produk dalam negeri, menjaga keamanan dan ketertiban, dan sebagainya.

Cinta Budaya Sunda

Urang Bandung harus nyunda, dalam artian mencintai budaya sunda sebagai bagian dari budaya nasional. Di tengah derasnya gempuran budaya asing, maka orang Bandung harus menjadi bagian dari unsur bangsa yang ikut mempertahankan budaya bangsa termasuk budaya daerah. Istilahnya, wawasan boleh global, tapi aksi atau jati diri lokal. Implementasinya bisa dalam bentuk yang beragam. Misalnya dengan berbahasa sunda ketika berbicara, menggunakan pakaian adat sunda, mempelajari seni sunda, melestarikan kaulinan budak sunda, bersikap, dan berperilaku nyunda, dan sebagainya.

Banyak sekali nilai-nilai filosofis Sunda yang dapat dijadikan sebagai pedoman hidup dalam membentuk karakter seperti silih asah, silih asuh, silih asuh, silih wawangi (hidup harus saling menyayangi dan mengasihi). Akur jeng dulur sakasur, sadapur, sasumur, salembur (harus  hidup rukun). Munjung ka Idung, muja ka bapa (berbakti kepada kedua orang tua). Ulah unggut kalinduan, ulah gedag kaanginan (harus memiliki pendirian yang teguh)dan sebagainya. Intinya, budaya Sunda harus dipahami, dijiwai, serta diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta Lingkungan

Dalam masyarakat Sunda dikenal peribahasa leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak yang artinya kalau hutan dirusak, pohon ditebang, maka air akan habis, dan akibatnya manusia akan hidup sengsara. Hal itu merupakan sebuah pesan manusia harus menjaga kelestarian hutan sebagai penopang kehidupan manusia.

Menurut data State of the World’s Forests 2007 yang dikeluarkan The UN Food & Agriculture Organization (FAO), angka deforestasi Indonesia pada periode 2000-2005 1,8 juta hektar/tahun. Laju deforestasi hutan di Indonesia ini membuat Guiness Book of The Record memberikan ‘gelar kehormatan’ bagi Indonesia sebagai negara dengan daya rusak hutan tercepat di dunia. Sebanyak 21 persen atau setara dengan 26 juta hektar telah dijarah total sehingga tidak memiliki tegakan pohon lagi. Artinya, 26 juta hektar hutan di Indonesia telah musnah.

Setiap menit hutan Indonesia hilang seluas lapangan bola. Hutan yang tersisa kini 82 juta hektar. Masing-masing 19,4 juta hektar di Papua, 26,6 juta hektar di Kalimantan, 11,4 juta hektar di Sumatera, 8,9 juta hektar di Sulawesi, 4,3 juta hektar di Maluku, serta 1,1 juta hektar di Bali dan Nusa Tenggara.

Angka tersebut sangat mencengangkan sekaligus sangat mengkhawatirkan karena kerusakan hutan akan berdampak buruk terhadap lingkungan, binatang, dan kehidupan manusia. Binatang banyak yang lari dari hutan, masuk ke perkampungan warga karena habitatnya dirusak dan kelaparan. Begitu pun pencemaran terjadi di mana-mana baik di sungai, tanah, maupun udara, perilaku buang sampah sembarangan yang dianggap biasa. Semua sudah masuk tahap mengkhawatirkan. Oleh karena itu, gerakan cinta lingkungan perlu ditanamkan melalui dunia pendidikan.

Hal yang dilakukan Ridwan Kamil tersebut tentunya bisa dilihat sebagai sebuah inovasi program dalam bidang pendidikan, karena salah satu visinya tentunya adalah meningkatkan kualitas pendidikan di Jawa Barat. Pada kurikulum 2013 pun yang saat ini diberlakukan pendidikan karakter sebenarnya sudah diintegrasikan, bahkan dipilah menjadi pendidikan karakter berbasis keluarga, pendidikan karakter berbasis sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat.

Ada lima nilai karakter yang difokuskan, yaitu (1) religius, (2) nasionalis, (3) integritas, (4) mandiri, dan (5) gotong royong. Dalam konteks pendidikan dan pembelajaran di sekolah, nilai-nilai karakter tersebui diinterasikan dalam kegiatan pembiasaan, pembelajaran, dan kegiatan ekstrakurikuler. Melalui pendidikan karakter Jabar Masagi, mungkin Ridwan Kamil ingin memberikan penguatan, melengkapi, dan memperkaya, serta memberikan ciri bahwa Jawa Barat selain menerapkan pendidikan karakter yang diberlakukan secara nasional oleh Kemdikbud, juga menerapkan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, khususnya filosofi sunda.

Masyarakat sunda memang kaya dengan nilai-nilai pendidikan karakter, misalnya Antara lain Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh, dan Silih Wawangi. Silih Asah artinya adalah saling berbagi pengetahuan dan informasi agar sama-sama memiliki kecerdasan dan ilmu pengetahuan. Ilmu yang disebarkan akan semakin memberikan manfaat kepada yang lain dan tentunya akan semakin berkah. Silih Asih artinya adalah saling menyayangi dan saling mengasihi. Tidak membeda-bedakan antara yang dengan yang lain. Kasih sayang akan melahirkan kenyamanan, kedamaian, kerukunan, kekeluargaan, persatuan dan kesatuan antar masyarakat.

Silih Asuh adalah saling menjaga atau saling mengayomi. Orang yang kuat membantu orang yang lemah, orang kaya membantu orang miskin, atau senior menjadi mentor juniornya. Dengan demikian, akan terjalin keharmonisan dalam kehidupan. Pada intinya manusia, baik kuat atau lemah, kaya ataupun miskin saling membutuhkan. Orang kaya jangan sombong dan pelit. Begitupun orang miskin harus mau bekerja pada orang kaya. Disitulah akan terjalin kerjasama yang baik.

Silih Wawangi artinya bahwa setiap orang sunda harus bisa saling “mengharumkan”, saling mempromosikan, saling mendukung antara satu dengan yang lain. Bukan sebaliknya, saling menjelekkan, saling menutup peluang, saling menutup informasi, dan saling menutup peluang karena takut tersaingi, sirik, pidik, jail kaniaya. Persaingan adalah hal yang wajar dalam kehidupan karena setiap orang punya ambisi dan cita-cita, tapi tidak perlu saling menjelekkan karena rezeki moal pahili (tidak akan tertukar).

Berikutnya, cageur, bageur, bener, pinter, singer, tur teu kabalinger. Kata-kata tersebut sangat kaya akan makna untuk membentuk karakter manusia. Cageur artinya sehat, baik jasmani maupun rohani. Bageur artinya memiliki budi pekerti yang baik,  bener artinya hidup dengan mengacu kepada nilai dan norma yang berlaku, pinter artinya cerdas atau memiliki pengetahuan yang luas. Singer artinya adalah cekatan, tipe pekerja keras, tidak suka bermalas-malasan. Dan teu kabalinger artinya adalah tidak neko-neko, tidak berbuat buruk, tidak suka membuat keributan, dan sebagainya.

Nilai-nilai di atas jika diterapkan dalam pendidikan, sudah sangat baik dan sangat mendukung pembentukan pendidikan karakter. Ki Sunda akan menjadi manusia yang memiliki jati diri dan berkepribadian. Menjadi manusia yang memiliki harkat, martabat, dan bermanfaat bagi sesama.

Dalam konteks pendidikan lingkungan hidup, ada pepatah “Gunung Kaian, Gawir Awian, Cinyusu Rumateun, Sempalan Kebonan, Pasir Talunan, Datar Sawahan, Lebak Caian, Legok Balongan, Situ Pulasareun, Lembur Uruseun, Walungan Rawateun, & Basisir Jagaeun”. Terjadinya kerusakan lingkungan dan bencana selain faktor karena alam, juga disebabkan oleh tangan-tangan jahat manusia yang mengeksploitasi lingkungan dengan serakah. Mereka hanya memikirkan keutungan bagi dirinya sendiri, sehingga berakibat fatal terhadap keseimbangan ekosistem dan habitat makhluk hidup.

Hewan-hewan di hutan banyak lari ke perkampungan karena tempatnya banyak dijarah oleh manusia. Belum lagi mereka diburu untuk dijual, sehingga banyak hewan yang seharusnya dilindungi tetapi justru terus diburu.Selanjutnya ada pribahasa “Leuweung rusak, cai beak, manusa balangsak.” Hal tersebut sebagai pengingat bahwa manusia harus mencintai lingkungan, karena kalau hutan rusak, air akan habis, dan manusia yang sengsara.

Manusia yang dijadikan oleh Tuhan sebagai khalifah dimuka bumi dan sebagai makhluk yang paling mulia ternyata justru menjadi perusak alam. Karena keserakahannya, manusia terus mengeksploitasi alam dan lingkungan tetapi abai dalam memeliharanya, akibatnya terjadilah bencana alam seperti banjir, longsor, kebakaran hutan, kekeringan yang berkepanjangan, dan munculnya berbagai wabah penyakit.

Sungai-sungai banyak yang tercermar oleh sampah rumah tangga dan limbah pabrik dan industri. Sebuah lembaga internasional pernah menempatkan sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia, bahkan dijuluki sebagai septictank raksasa karena saking sangat banyaknya sampah dan limbah yang ada di sungai tersebut. Air sungai bau, kotor, dan beracun. Air sungai tidak dapat dikonsumsi dan ikan-ikan pun mati. Oleh karena itu, pemerintah pusat, pemerintah provinsi Jawa Barat, dengan dukungan dari dari TNI dan berbagai lembaga lainnya serta kelompok masyaraat saat ini bekerja keras untuk membersihkan sungai Citarum melalui gerakan “Citarum Harum”.

Berikutnya, ulah mipit teu amit ngala teu bebeja. Artinya, jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita, atau jangan suka mengambil milik orang lain. Kalau ada perlu, harus meminta izin kepada sang empunya. Masih maraknya tindakan korupsi karena manusia khususnya orang sunda belum memaknai pribahasa tersebut.

Indung tunggul rahayu, bapak tangkal darajat, artinya harus berbakti kepada kedua orang tua, karena mereka lah yang sangat berjasa melahirkan dan mengurus anak dengan segala susah payah. Berbakti kepada kedua orang tau merupakan cerminan anak yang saleh dan salehah.

Munjung ka indung, muja ka bapa, artinya anak harus meminta doa restu orang tua dalam melakukan segala aktivitasnya, karena doa orang tua adalah keramat dan diijabah oleh Allah Swt. Ridha Allah dalam ridha orang tua dan murka Allah ada para murka orang tua. Itulah sekelumit nilai atau filosofi sunda dalam pendidikan. Tentunya masih banyak yang belum digali atau dibahas lebih jauh.

Selain nilai-nilai filosofif diatas, masih banyak nilai-nilai filosofis sunda yang bisa menjadi sumber pendidikan karakter “masagi”. Dalam pelaksanaannya di sekolah, pendidikan karakter “masagi” seperti halnya pendidikan karakter yang sudah diprogramkan oleh pemerintah pusat, tidak menjadi mata pelajaran tersendiri, tetapi diintegrasikan ke dalam kegiatan pembiasaan, kegiatan intrakurikuler (pembelajaran), dan kegiatan ekstrakurikuler. Dalam pelaksanaannya pun, tidak hanya mengandalkan peran sekolah saja, tetapi harus melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholder) seperti komite sekolah, dunia usaha dan industri (DUDI) dan masyarakat agar tercipta sinergi antarsemua komponen.

Ada sebuah semangat dan harapan dari implementasi kurikulum pendidikan “masagi” di Jawa Barat, yaitu lahirnya generasi yang benar-benar masagi dalam pengetahuan, sikap, dan perbuatannya. Dan tentunya hal ini  diharapkan berdampak terhadap pembangunan di Jawa Barat yang semakin maju, semakin memiliki daya saing, semakin berprestasi, dan semakin sejahtera sebagai cerminan visi “Jabar Juara Lahir Batin“.

sumber:

Tags
Ditulis Oleh:
SMKN1 Bongas Sekolah Terbaik di Kabupaten Indramayu, dan Sekolah Ramah Anak

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Chat Staf TU